Home » » Perjalanan hari ke 3 (tiga) di puncak Lawu Pasar Dieng dan sendang Satrio

Perjalanan hari ke 3 (tiga) di puncak Lawu Pasar Dieng dan sendang Satrio

HArgo Pusro
Perjalanan kali ini Di awali dengan doa bersama untuk di beri keselamatan di dalam perjalanan. di hari yang ke 3(tiga) puncak lawu  kali ini,,sebagai tempat pertama kali yang kami kunjungi yaitu Pasar Dieng di mana menurut cerita di tempat tersebut bukanlah selayaknya pasar biasa yang ada di dunia nyata melainkan sebuah basar yang berada di dunia lain atau dunia Gaib.yang terdengar hanya suara keramaian seperti orang yang bertrabsaksi di sebuah pasar dan suara tersebut muncul di kala malam hari namun tidak semua orang bisa melihat dan mendengan suara tersebut hanya orang -orang tertentu saja yang mampu menyaksikan .selesainya aku mengunjungi Pasar Dieng kami pun melanjudkan perjalanan menuju Kapanditan di tempat tersebut konon menurut cerita tempatnya Limbuk sosok yang di ceritakan dalam pewayangan Limbuk sangat gemar sekali melantunkan suwara-swara merdu dalam sebuah tembang atau dalam istilah Jawa seneng Tetembangan untuk menghibur para ndoronya atau atasanya,,.selesai di Kapanditan kami pun segera bergegas melanjudkan perjalanan menuju Kayangan
Dan meninggalkan Kapanditan ,sesampainya kami di sebuah tempat yang ada sebuah rumah kecil atau cungkup,dan di dalam cungkup tersebut  ada sebuah semacam gundukan tanah entah itu sebuah kuburan atau bukan kalau menurut cerita di situ tempat tinggalnya kyai Bradanaya atau Semar,di tempat tersebutpun kami melakukan sedikit ritual dan memanjadkan doa masing-masing setelah selesai kami melanjudkan perjalanan kembali menuju Argo Pusro yang terletak di sebelah kana Argo dalem setelah selesai di HArgo Pusro kami melanjudkan perjalanan untuk menuju HArgo Tiling
di Mana tempat tersebutlah yang banyak sekali di tumbuhi Bunga Eldeways di mana bunga tersebut banyak yang menyebutnya bunga abadi karena bunga tersebut tidak pernah rontok meski di simpan sampai kapanpun,stelah selesai kami mengunjungi HArgo Tiling dan memetik sedikit bunga keabadian kami pun melanjudkan perjalanan kembali meninggalkan Argo Tiling untuk menuju sebuah sendang yang berada tidak jauh dari argo Tiling di mana Sendang tersebut bernama Sendang Satrio
sendang Satrio
di sendang Satrio kami pun mandi dengan beberapa siraman yang di lakukan oleh teman saya yang mana telah mengerti dan memahami tempat tersebut pengalaman yang tidak bisa aku lupa disaat merasakan tetesan pertama air yang di ambil dari sendang macam  satu tetesan bagaikan di hantam satu kilo batu dan aku pun hampir-hampir pingasan dan sesak nafas entah kenapa aku sendiri merasa heran suhu air yang begitu dingin serasa tembus ke dalam ronga-ronga kepala dan tembus ke otak sampai ke jantungsetelah selesai aku di siram sebanyak sembilan kali kami pun segera bergegas dari sendang Satrio dan kembali ke penginapan atau bedeng yang terletak di Argo Dalem karena waktu itu sudah sore dan kami perlu istirahat.

0 comments:

Post a Comment